Wednesday, April 15, 2015

Feature Human Interest

Pak Warno dan Sepedah Tuanya


Jarak jauh yang dia tempuh, tak jadi halangan untuk mengais rezeki demi sesuap nasi. Dilihat dari fisiknya tulang yang sedikit menonjol di bagian bawah lehernya dan serta kulit wajah yang keriput berwarna agak gelap menggambarkan seorang yang hidupnya tidak mudah. Hiruk pikuk pasar serta bau agak menyengat dan tumpukan karung menjadi teman setianya sehari-hari.

Dikala kita masih tepejam dan langit pun masih gelap kaki renta pak warno dengan semangat dikayuhnya menuju pasar besar Mojokerto yang jaraknya cukup jauh dari rumahnya. Ia bekerja sebagai kuli panggul disana. Sebelum jadi kuli panggul ia bekerja sebagai buruh sawah, namun seiring perkembangan kota mojokerto banyak lahan sawah yang dialih fungsikan sebagai lahan perumahan.




Pengahasilan yang ia peroleh tak pernah tetap dan kadang pehasilan seharinya jauh dari kurang untuk keperluan dapur agar asap tunggku tetap mengepul. Pak warno tinggal bersama istrinya, 2 anak perempuannya dan seorang cucunya. Kehidupanya sungguh sangat miris penghasilan yang ia dapat dengan tubuh rentanya perhari hanya Rp.30.000 kadang bahkan kurang dari nominal itu. Hutang pun banyak ia miliki untuk bertahan hidup.

Kehidupan keluarganya pun tak seberuntung seperti kebanyaka orang. Anaknya yang pertama yang bernama sari mengalami gangguan mental, dahulunya sari adalah seorang gadis yang sehat dan sangat lincah, namun kejadian buruk menimpanya. Dia diperkosa oleh pamanya yang telah meninggal sampai hamil. Hal ini membuat dia depresi. Anak dari sari sekarang mengenyam pendidikan SD.

Dengan penghasilannya dia juga membiayai cucunya tersebut. “saya selalu berusaha dan berdoa, insya allah rezeki yang saya dapat meskipun tak begitun banyak dapat membiayai cucu saya, saya ingin lihat cucu saya mengenyam pendidikan dan bisa membaca agar tidak sama dengan saya yang buta aksara,” ujar pak warno dengan agak terbata-bata.


No comments:

Post a Comment