Pak Warno dan Sepedah Tuanya
Jarak jauh yang dia tempuh, tak
jadi halangan untuk mengais rezeki demi sesuap nasi. Dilihat dari fisiknya
tulang yang sedikit menonjol di bagian bawah lehernya dan serta kulit wajah
yang keriput berwarna agak gelap menggambarkan seorang yang hidupnya tidak
mudah. Hiruk pikuk pasar serta bau agak menyengat dan tumpukan karung menjadi
teman setianya sehari-hari.
Dikala kita masih tepejam dan
langit pun masih gelap kaki renta pak warno dengan semangat dikayuhnya menuju
pasar besar Mojokerto yang jaraknya cukup jauh dari rumahnya. Ia bekerja
sebagai kuli panggul disana. Sebelum jadi kuli panggul ia bekerja sebagai buruh
sawah, namun seiring perkembangan kota mojokerto banyak lahan sawah yang dialih
fungsikan sebagai lahan perumahan.
Pengahasilan yang ia peroleh tak
pernah tetap dan kadang pehasilan seharinya jauh dari kurang untuk keperluan
dapur agar asap tunggku tetap mengepul. Pak warno tinggal bersama istrinya, 2
anak perempuannya dan seorang cucunya. Kehidupanya sungguh sangat miris
penghasilan yang ia dapat dengan tubuh rentanya perhari hanya Rp.30.000 kadang
bahkan kurang dari nominal itu. Hutang pun banyak ia miliki untuk bertahan
hidup.
Kehidupan keluarganya pun tak
seberuntung seperti kebanyaka orang. Anaknya yang pertama yang bernama sari
mengalami gangguan mental, dahulunya sari adalah seorang gadis yang sehat dan sangat
lincah, namun kejadian buruk menimpanya. Dia diperkosa oleh pamanya yang telah
meninggal sampai hamil. Hal ini membuat dia depresi. Anak dari sari sekarang mengenyam
pendidikan SD.
Dengan penghasilannya dia juga
membiayai cucunya tersebut. “saya selalu berusaha dan berdoa, insya allah
rezeki yang saya dapat meskipun tak begitun banyak dapat membiayai cucu saya,
saya ingin lihat cucu saya mengenyam pendidikan dan bisa membaca agar tidak
sama dengan saya yang buta aksara,” ujar pak warno dengan agak terbata-bata.
No comments:
Post a Comment